Minggu, 05 April 2015

KEBUDAYAAN NIPPON

TUGAS I
ILMU BUDAYA DASAR
“KEBUDAYAAN NIPPON
Dosen                   : Auliya Ar Rahma


Oleh :
Ira Rochimah
1C114882
1KA08

SISTEM INFORMASI
FAKULTAS ILMU KOMPUTER TEKNOLOGI INFORMASI
MARET 2015


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
                  Manusia mendiami wilayah yang berbeda, dan berada di lingkungan yang berbeda juga. Hal ini membuat kebiasaan, adat istiadat, kebudayaan dan kepribadian setiap manusia disuatu wilayah berbeda dengan yang lainnya. Namun secara garis besar terdapat tiga pembagian wilayah, yaitu : Barat, Timur Tengah, dan Timur. Kepribadian diartikan sebagai suatu pola sikap yang mencerminkan sifat atau karakter seseorang dengan lingkungannya. Bangsa timur diartikan suatu bangsa yg cukup menjunjung tinggi norma kesopanan. Kepribadian Bangsa Timur dapat diartikan sebagai suatu sikap yang dimiliki oleh suatu negara yang menentukan penyesuaian dirinya yang unik dan karakter yang mencerminkan masyarakat yang menganut budaya,ke-khasan, pola pikir dan kebiasaan dari daerah Timur.
                  Bangsa Timur dikenal dunia sebagai bangsa yang ramah dan bersahabat. Orang – orang dari wilayah lain sangat suka dengan kepribadian bangsa Timur yang tidak individualistis dan saling tolong menolong satu sama lain. Hal tersebut bagi bangsa timur merupakan suatu sikap yang bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan. Bangsa timur identik dengan benua asia yang penduduknya sebagian besar berambut hitam, berkulit sawo matang dan ada pula yang berkulit putih, dan bermata sipit. Sebagian besar cara berpakaian orang timur lebih sopan dan tertutup mungkin karena orang timur kebanyakan memeluk agama islam dan menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku. Serta terdapat ciri khas dalam berbagai negara yang memiliki kepribadian yang unik. Misalnya, orang di negara Jepang selalu membungkukkan badan mereka tanda hormat apabila bertemu dengan orang lain. Bangsa Timur masih memiliki kebiasaan dan adat istiadat yang masih sangat kental. Contohnya saja negara Korea. Mereka masih menggunakan hanbok pada saat-saat hari penting. Misalnya seollal atau tahun baru Korea, ulang tahun anak pertama ( doljanchi), pernikahan, dan festival-festival yang biasa dirayakan di Korea. Dan pada saat pernikahan umumnya kedua mempelai diwajibkan minum soju. Bangsa Timur pun masih sangat percaya dengan mitos. Contohnya di Jepang, orang-orang biasanya menikah di musim semi berharap pernikahan mereka akan bahagia. Atau yang lebih parah lagi, mereka sangat percaya dengan dukun/paranormal. Jepang, meskipun sudah menjadi negara maju, namun masyarakatnya masih sangat percaya dengan mistis.
                  Berdasarkan keunikan adat,budaya dan kepribadian Bangsa timur, Saya ingin membahas makalah mengenai salah satu adat, budaya kepribadian serta tingkah laku dari bangsa Jepang yang berjudul “KEBUDAYAAN NIPPON


B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana kebudayaan Bangsa Jepang?
2.      Bagaimana adat istiadat Bangsa Jepang?
3.      Bagaimana tingkah laku atau kebiasaan Masyarakat Jepang?






BAB II
ISI
A.    Kebudayaan
              Jepang merupakan Negara yang di juluki Negara matahari dan Negara bunga sakura, mengapa demikian? Karena di Negara jepang mayoritas beragama Shinto yang menyembah matahari sehingga disebut Negara Matahari, sedangkan julukan Negara Bunga Sakura di berikan karena banyak bunga sakura yang tumbuh di tanah jepang. Negara Jepang kaya dengan berbagai kebudayaan leluhurnya yang beraneka ragam. Walaupun saat ini perkembangan teknologi di Jepang terus berkembang dalam hitungan detik , namun sisi tradisional masuh terus dilestarikan hingga sekarang ini. Berikut ini adalah salah satu dari berbagai macam kebudayaan Jepang yang masih terus berlangsung hingga saat ini :
1.      Matsuri (, Matsuri)

           Matsuri (, Matsuri) adalah kata dalam bahasa Jepang yang menurut pengertian agama Shinto berarti ritual yang dipersembahkan untuk Kami, sedangkan menurut pengertian sekularisme berarti festival, perayaan atau hari libur perayaan.
Matsuri diadakan di banyak tempat di Jepang dan pada umumnya diselenggarakan jinja atau kuil, walaupun ada juga matsuri yang diselenggarakan gereja dan matsuri yang tidak berkaitan dengan institusi keagamaan.
           Di daerah Kyushu, matsuri yang dilangsungkan pada musim gugur disebut Kunchi. Sebagian besar matsuri diselenggarakan dengan maksud untuk mendoakan keberhasilan tangkapan ikan dan keberhasilan panen (beras, gandum, kacang, jawawut, jagung), kesuksesan dalam bisnis, kesembuhan dan kekebalan terhadap penyakit, keselamatan dari bencana, dan sebagai ucapan terima kasih setelah berhasil dalam menyelesaikan suatu tugas berat. Matsuri juga diadakan untuk merayakan tradisi yang berkaitan dengan pergantian musim atau mendoakan arwah tokoh terkenal. Makna upacara yang dilakukan dan waktu pelaksanaan matsuri beraneka ragam seusai dengan tujuan penyelenggaraan matsuri. Matsuri yang mempunyai tujuan dan maksud yang sama dapat mempunyai makna ritual yang berbeda tergantung pada daerahnya.
           Pada penyelenggaraan matsuri hampir selalu bisa ditemui prosesi atau arak-arakan Mikoshi, Dashi (Danjiri) dan Yatai yang semuanya merupakan nama-nama kendaraan berisi Kami atau objek pemujaan. Pada matsuri juga bisa dijumpai Chigo (anak kecil dalam prosesi), Miko (anak gadis pelaksana ritual), Tekomai (laki-laki berpakaian wanita), Hayashi (musik khas matsuri), penari, peserta dan penonton yang berdandan dan berpakaian bagus, dan pasar kaget beraneka macam makanan dan permainan.

2.      Perayaan Hanami

           Hanami (hana wo miru = melihat bunga) atau ohanami adalah tradisi Jepang dalam menikmati keindahan bunga, khususnya bunga sakura. Mekarnya bunga sakura merupakan lambang kebahagiaan telah tibanya musim semi. Selain itu, hanami juga berarti piknik dengan menggelar tikar untuk pesta makan-makan di bawah pohon sakura. Rombongan demi rombongan berpiknik menggelar tikar dan duduk-duduk di bawah pepohonan sakura untuk bergembira bersama, minum sake, makan makanan khas Jepang, dan lain-lain layaknya pesta kebun. Semuanya bergembira. Ada kelompok keluarga, ada kelompok perusahaan, organisasi, sekolah dan lain-lain

3.      Dou/do

           Di Jepang, terdapat kebudayaan tradisional yang disebut “dou/do” (artinya “jalan”). Ada kadou yang merupakan seni merangkai bunga, sadou yang menitikberatkan keindahan gerakan melalui etiket, koudou yang memungkinkan kita menikmati bau harum, shodou yang mengetengahkan keindahan huruf menggunakan kuas dan tinta, dan berbagai seni bela diri seperti judo yang termasuk dalam cabang olahraga, kendo, karatedo, aikido, dan kyudo (seni memanah). Baik seni bela diri maupun jalan seni bukanlah sekadar persaingan kekuatan atau keahlian, melainkan juga merupakan budaya khas Jepang yang menuntut keindahan gerakan dan spiritualitas. Selain itu, “dou” tidak memiliki titik akhir, melainkan sesuatu yang terus ditekuni seumur hidup. Menggembleng juga merupakan karakteristik “dou”.

4.      Kabuki

           Kabuki adalah sebuah bentuk teater klasik yang mengalami evolusi pada awal abad ke-17. Ciri khasnya berupa irama kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh para aktor, kostum yang super-mewah, make-up yang mencolok (kumadori), serta penggunaan peralatan mekanis untuk mencapai efek-efek khusus di panggung. Make-up menonjolkan sifat dan suasana hati tokoh yang dibawakan aktor. Kebanyakan lakon mengambil tema masa abad pertengahan atau zaman Edo, dan semua aktor, sekalipun yang memainkan peranan sebagai wanita, adalah pria.

B.     Adat Istiadat Jepang
            Adat istiadat merupakan kebiasaan sosial yang sejak lama ada dalam masyarakat dengan maksud mengatur tata tertib. Ada pula yang mengikat norma dan kelakuan di dalam masyarakat, sehingga dalam malakukan suatu tindakan mereka akan memikirkan dampak akibat dari berbuatannya atau sekumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannyakarena bersifat kekal dan terintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya.
§  Orang Jepang dalam hubungan sosial biasanya menggunakan bahasa yang halus dan tidak angkuh. Saat bertemu biasanya membungkukkan badan dan terkadang juga bersalaman.
§  Dalam hubungan berkomunikasi dengan negara lain, pastilah kita harus menyesuaikan dengan adat istiadat dari negara - negara tersebut agar tidak ada kesalahpahaman dalam berkomunikasi apa lagi menyangkut sensitivitas dari masing-masing daerah. Orang Jepang lebih menyukai jabatan tangan yang ringan dengan orang yang belum dia kenal.
§  Adat istiadat di Jepang mengharuskan seesorang makan sambil duduk sembari menggunakan sumpit. Sumpit sendiri berasal dari daratan China dan para era Nara (710-794) menggunakan sepasang sumpit sudah mulai diikuti oleh penduduk negeri samurai ini.
§  Masyarakat Jepang percaya bahwa kekuatan misterius para dewa menyebabkan tanaman selalu berdaun hijau sepanjang tahun dan tidak merontokkan daunnya di musim dingin.

C.     Perilaku Masyarakat Jepang
           Perilaku atau sistem tingkah laku adalah perwujudan daripada kepercayaan dan nilai-nilai yang dipedomani oleh setiap kebudayaan. Menurut Ruben (1954, 129-155) perwujudan tingkah laku itu adalah melalui simbol-simbol verbal seperti bahasa yang digunakan baik lisan maupun tulisan dan melalui symbol-simbol nonverbal seperti gerakan badaniah/bahasa tubuh, penampilan, persepsi indrawi, penggunaan ruang dan jarak serta penggunaan waktu. (Lusiana, 2012 :70). Berikut ini prilaku Masyarakat Jepang :
§  Rasa Malu, budaya malu ini membawa pengaruh negatif dalam prilaku kehidupan masyarakat Jepang, adalah prilaku bunuh diri yang dikenal dengan “harakiri”. Lebih baik mati daripada menanggung rasa malu. Ini adalah salah satu efek negatif dari rasa malu
§  Tertib dan Disiplin, Bagaimana masyarakat Jepang bersikap terhadap peraturan lalu lintas adalah suatu nyata. Seperti, orang Jepang lebih senang memakai jalan memutar dari pada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan raya. Bagaimana taatnya mereka untuk menunggu lampu traffice light menjadi hijau, meskipun di jalan itu sudah tidak ada kendaraan yang lewat lagi.
§  Mereka sangat mengahargai waktu, disana mereka berangkat kerja dan sekolah sangat pagi dan jarang sekali ada yang telat, itu juga dikarenakan mereka lebih suka berangkat dengan kendaraan umum seperti kereta, daripada berangkat dengan kendaraan pribadi mereka.
§  Sopan dan Santun, Masyarakat Jepang sangat terlatih refleksnya untuk mengatakan gomennasai (maaf) dalam setiap kondisi yang tidak mengenakan orang lain.
§  Memberi hormat, membungkuk merupakan hal yang bagi masyarakat Jepang untuk memberi salam atau meminta maaf. Dari saat mereka memasuki sekolah dasar, orang Jepang belajar untuk menghormati orang tua – dan membungkuk adalah bagian dari itu. Tunduk pada teman pada diambil sudut 30 derajat sedangkan untuk atasan di tempat kerja atau orang tua dan orang-orang yang di hormati lain nya pada sudut 70 derajat di ikuti dengan tutur bahasa yang sopan. Ketika memanggil orang yang lebih tua harus selalu menambahkan “san”, yang merupakan nama kehormatan untuk mereka.
§  Jepang bisa maju seperti sekarang ini karena mereka rajin belajar, murid murid di Jepang biasa belajar sampai lebih dari 12 jam, dari pagi jam 08.00 sampai 17.00. Setelah selesai di sekolah mereka tidak langsung pulang tapi mereka belajar di Juku ( semacam bimbingan belajar). Mereka belajar di Juku bisa sampai jam 22.00 dan baru pulang sekitar jam 24.00. Dan hal ini menjadikan orang Jepang untukgiat bekerja saat telah menyelesaikan pendidikan.
§  Identitas Kolektif, masyarakat Jepang cenderung menganut identitas kolektif (kelompok) sebagai sebuah kebanggaan. Kultur kebersamaan ini bisa terlihat jika kita sudah bergabung dengan komunitas tertentu, misalnya di laboratorium, unit kegiatan mahasiswa, atau perusahaan. Perilaku bekerja sama dan terbiasa dalam teamwork ini sesuai dengan Konsep Wa yakni salah satu pilar nilai dalam budaya jepang yang berarti harmoni. Wa mengandung makna mengedepankan semangat teamwork, menjaga hubungan baik, dan menghindari ego individu.
§  Dalam tata cara makan di Jepang, menyeruput makanan Anda, terutama sup atau ramen, benar-benar dapat diterima. Bahkan, itu dianggap sebagai cara yang tepat untuk menikmati rasa ramen sepenuhnya. Bahkan ini adalah cara mereka untuk menghargai tuan rumah ataupun koki yang sudah menyiapkan makanan.
§  Sikap Duduk, Masyarakat Jepang juga memiliki sikap duduk yang unik yakni duduk dengan sikap “Seiza”(duduk dengan kaki terlipat di bawah pantat), secara harfiah diterjemahkan sebagai “duduk yang tepat.”
§  Tata Cara Makan, setia anak-anak di Jepang diajarkan untuk  memakan setiap potongan terakhir dari makanannya, termasuk butiran nasi, sebelum beranjak dari meja.
§  Jika diundang ke sebuah pesta minum (“nomikai”), jangan menuangkan bir hanya untuk diri sendiri dan mulai minumnya. Sikap yang baik mengharuskan kalian untuk ‘toast‘ terlebih dahulu, angkat gelas dengan satu tangan dan mengatakan “Kanpai!” (Cheers!) Biasanya, ketika mengambil tempat duduk, pelayan akan memberikan “oshibori” (handuk basah kecil) untuk membersihkan tangan.
§  Budaya di Jepang mengharuskan kita melepas sepatu saat memasuki rumah atau berkunjung ke rumah orang Jepang. Di setiap rumah tersedia sandal untuk kita pakai saat berada di dalam rumah.
§  Ada banyak spa dan pemandian umum di kota-kota dan daerah pedesaan di Jepang. Gaya mandi Jepang berbeda dengan di Barat atau di Indonesia.
§  Di jepang juga terkenal dengan kebiasaan membaca. Dimanapun dan kapanpun bisa mereka manfaatkan untuk membaca misalnya di kereta api, di taman, di toko buku dan tempat lainnya.
§  Dalam hal keuangan, orang Jepang terkenal dengan sifat yang hemat dan tidak suka berprilaku konsumtif. Hal ini kenapa orang Jepang sering berbelanja pada pukul 19.30 karena pada jam-jam seperti ini biasanya supermarket memberikan diskon.  Di Jepang kita tidak perlu memberi tip kepada pegawai hotel, bar dan staf restoran, sopir taksi, dan sebagainya. Bahkan, memberi seseorang tip akan mempermalukan mereka, karena itu merupakan hal yang sedikit agak kasar untuk dilakukan di Jepang,
§  Salah satu nilai baik yang ditanamkan sejak dini adalah mengenai kemandirian. Sejak kecil anak-anak di Jepang diajar untuk mandiri sehingga anak-anak sudah terbiasa pergi dan pulang sekolah sendiri tanpa dijemput oleh orang tuanya.
§  Bangsa Jepang juga dikenal karena semangat pantang menyerah, karena dalam budaya mereka tidak ada prinsip kegagalan. Yang ada hanyalah kurang berusaha, oleh karenanya mereka terbiasa menjadi orang-orang yang ulet dan pantang menyerah.
§  Jepang dikenal beberapa kebiasaan buruk yang biasa dilakukan masyarakat ini seperti kebiasaan jarang mandi. Mereka mandi hanya seminggu sekali di pemandian air panas (onsen), dan yang menarik mereka mandi beramai-ramai dan tanpa menggunakan busana sehelaipun.
§  Orang Jepang sering bunuh diri. Mereka biasa bunuh diri di awal tahun atau akhir tahun, biasanya mereka bunuh diri karena mereka malu, banyak diantaranya pelajar yang tidak lulus, ada juga yang bunuh diri karena lilitan hutang,dan masih banyak penyebab mereka bunuh diri.  Namun jika bunuh diri dengan cara menabrakkan diri ke kereta, akan didenda sebesar 10M.
§  Prosedural, Well Organized, Tekun, dan Teliti. Sifat-sifat ini turunan dari karakter yang menghargai usaha, untuk meraih hasil yang memuaskan. Orang Jepang memang sangat cocok untuk jenis pekerjaan yang berupa rutinitas dan membutuhkan ketelitian.




BAB III
KESIMPULAN

            Jepang merupakan salah satu Negara yang menjadi “barometer” bagaimana sebuah budaya dalam sosial masyarakat dapat terinternalisasi dengan sangat baik dan mereka sangat konsisten dengan budaya yang mereka yakini tersebut serta berusaha menjaga dan melestarikannya sehingga sampai saat ini, dan dapat kita lihat bahwa budaya Jepang masih menjadi contoh dan teladan tentang bagaimana pengaruh budaya yang sangat kuat pada kehidupan sehari-hari masyarakat yang ada didalamnya.






DAFTAR PUSTAKA



Tidak ada komentar:

Posting Komentar