Senin, 06 April 2015

BEDAH CERPEN "MAS JONI"

TUGAS II
ILMU BUDAYA DASAR
BEDAH CERPEN “MAS JONI”
Dosen                   : Auliya Ar Rahma
  


Oleh :
Ira Rochimah
1C114882
1KA08

SISTEM INFORMASI
FAKULTAS ILMU KOMPUTER TEKNOLOGI INFORMASI
MARET 2015

BAB I
PENDAHULUAN
A.   Latar Belakang
Sastra (Sanskerta: शास्त्र, shastra) merupakan kata serapan dari bahasa Sanskerta śāstra, yang berarti "teks yang mengandung instruksi" atau "pedoman", dari kata dasar śās- yang berarti "instruksi" atau "ajaran". Dalam bahasa Indonesia kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada "kesusastraan" atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Secara harfiah kata sastra berarti huruf atau tulisan atau karangan. Oleh karena alat yang digunakan untuk menciptakan karya sastra adalah bahasa, maka seni sastra di sebut juga seni bahasa. Dalam arti kesusastraan lama, istilah sastra berarti buku baik yang berisi tentang sejarah, dongeng maupun peraturan undang- undang.
Sedangkan Sastra Indonesia, adalah sebuah istilah yang melingkupi berbagai macam karya sastra di Asia Tenggara atau karya seni yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Istilah "Indonesia" sendiri mempunyai arti yang saling melengkapi terutama dalam cakupan geografi dan sejarah poltik di wilayah tersebut. Sastra Indonesia sendiri dapat merujuk pada sastra yang dibuat di wilayah Kepulauan Indonesia. Sering juga secara luas dirujuk kepada sastra yang bahasa akarnya berdasarkan Bahasa Melayu (dimana bahasa Indonesia adalah satu turunannya).
Secara urutan waktu sastra di Indonesia terbagi atas beberapa angkatan, yaitu Angkatan Pujangga Lama, angkatan Sastra Melayu Lama, angkatan Balai Pustaka, angkatan Pujangga Baru, angkatan 1945, angkatan 1950-1960-an, angkatan 1966-1970-an, angkatan 1980-1990an, angkatan Reformasi, angkatan 2000-an.
Berdasarkan sejarahnya, sastra dibagi menjadi dua periode yaitu sastra lama dan sastra baru. Sastra lama, sering juga disebut dengan kesusastraan klasik atau tradisional (sastra melayu). Zaman berkembang nya kesusastraan klasik ini ialah sebelum masuknya pengaruh Barat ke Indonesia atau bersamaan dengan masuknya agama islam pada abad ke-13. Beberapa bentuk karya sastra lama yaitu: syair, pantun, gurindam, hikayat, dongeng dan tambo.
Sedangkan Sastra Baru sering disebut kesusastraan baru atau sastra modern, yaitu yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Indonesia. Sastra baru juga dapat diartikan sastra yang telah dipengaruhi oleh karya sastra asing sehingga sudah tidak asli lagi. Beberapa bentuk karya sastra modern yaitu: novel, cerpen, puisi, drama dan roman.
Dalam makalah ini saya akan menyampaikan salah satu sastra modern yaitu cerpen karya Joseph Christoffel dengan judul “Mas Joni“

B.     Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.                  Cerpen
2.                  Identitas Cerpen “Mas Joni”
3.                  Unsur-unsur Instrinsik dari Cerpen “Mas Joni”
4.                  Unsur-unsur Ekstrinsik dari Cerpen “Mas Joni”





BAB II
ISI
A.    Cerpen
Cerpen atau cerita pendek adalah salah satu karya sastra tertulis dalam bentuk prosa naratif fiktif. Cerpen merupakan karya sastra yang lebih banyak diminati karena lebih ringan dan tidak membutuhkan banyak waktu,  baik untuk membuat maupun membacanya. Pengertian cerpen menurut para ahli pun beragam dan dari berbagai sudut pandang. Secara sederhana, cerpen adalah cerita yang membatasi diri dalam membahas salah satu unsur fiksi dalam aspek nya yang terkecil. Definisi lain menyebutkan bahwa cerpen adalah prosa yang menceritakan salah satu masalah kehidupan pelakunya sehingga hanya memiliki alur tunggal. Cerpen cenderung padat dan langsung pada tujuannya bila dibandingkan dengan karya-karya fiksi lainnya yang lebih panjang, yakni novel.
Ciri Ciri Cerpen pada umumnya yaitu bentuk tulisannya singkat, padat, dan lebih pendek daripada novel. Sumber cerita dari kehidupan sehari-hari, baik pengalaman sendiri maupun orang lain. Tokoh-tokohnya dilukiskan mengalami konflik sampai pada penyelesaiannya. Penokohannya  sangat  sederhana,  singkat,  dan  tidak  mendalam. Menceritrakan  satu  kejadian,  dari  terjadinya  perkembangan  jiwa  dan  krisis,tetapi  tidak  sampai menimbulkan  perubahan  nasib. Terdiri  kurang dari 10.000 kata. Sanggup meninggalkan kesan mendalam dan mampu meninggalkan  efek pada perasaan pembaca. Hanya mengisahkan sesuatu yang berarti bagi pelakunya saja. Penggunaan kata-katanya sangat ekonomis dan mudah dikenal masyarakat. Beralur tunggal dan lurus. Tidak melukiskan seluruh kehidupan pelakunya karena mengangkat masalah tunggal atau sarinya saja.
Cerita fiksi seperti cerpen dan novel dapat kita analisis dengan dua segi, yaitu unsur yang meleklat pada tubuh karya sastra itu sendiri (unsur intrinsik) dan unsur yang ada di luar tubuh sastra itu sendiri (unsur ekstrinsik).
      1.            Unsur Intrinsik
Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya itu sendiri. Unsur–unsur intrinsik cerpen mencakup :
·         Tema adalah ide pokok sebuah cerita, yang diyakini dan dijadikan sumber cerita.
·         Latar (setting) adalah tempat, waktu , suasana yang terdapat dalam cerita. Sebuah cerita harus jelas dimana berlangsungnya, kapan terjadi dan suasana serta keadaan ketika cerita berlangsung. Unsur latar dapat dibedakan kedalam 3 unsur pokok yaitu, tempat, waktu dan suasana.
-          Latar Tempat   : Latar tempat merujuk pada lokasi terjadinya peristiwa. Unsur tempat yang dipergunakan mungkin berupa tempat-tempat dengan nama tertentu.
-          Latar Waktu    : Latar waktu berhubungan dengan "kapan" terjadinya peristiwa-peristiwa yang diceritakan.
-          Latar suasana  : Latar suasana adalah salah satu unsur intrinsik yang berkaitan dengan keadaan psikologis yang timbul dengan sendirinya bersamaan dengan jalan cerita. Suatu cerita menjadi menarik karena berlangsung dalam suasana tertentu
·         Alur (plot) adalah susunan peristiwa atau kejadian yang membentuk sebuah cerita. Alur dibagi menjadi 3 yaitu:
-          Alur maju adalah rangkaian peristiwa yang urutannya sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak ke depan terus.
-          Alur mundur adalah rangkaian peristiwa yang susunannya tidak sesuai dengan urutan waktu kejadian atau cerita yang bergerak mundur (flashback).
-          Alur campuran adalah campuran antara alur maju dan alur mundur.
Alur meliputi beberapa tahap:
-          Pengantar: bagian cerita berupa lukisan , waktu, tempat atau kejadian yang merupakan awal cerita.
-          Penampilan masalah: bagian yang menceritakan masalah yang dihadapi pelaku cerita.
-          Puncak ketegangan / klimaks : masalah dalam cerita sudah sangat gawat, konflik telah memuncak.
-          Ketegangan menurun/antiklimaks : masalah telah berangsur–angsur dapat diatasi dan kekhawatiran mulai hilang.
-          Penyelesaian / resolusi : masalah telah dapat diatasi atau diselesaikan.
·         Perwatakan
Menggambarkan watak atau karakter seseorang tokoh yang dapat dilihat dari tiga segi yaitu melalui:
-          Dialog tokoh
-          Penjelasan tokoh
-          Penggambaran fisik tokoh
·         Tokoh
Tokoh adalah orang orang yang diceritakan dalam cerita dan banyak mengambil peran dalam cerita. tokoh dibagi menjadi 3, yaitu:
-          Tokoh Protagonis : tokoh utama pada cerita
-          Tokoh Antagonis : tokoh penentang atau lawan dari tokoh utama
-          Tokoh Tritagonis : penengah dari tokoh utama dan tokoh lawan
·       Nilai (amanat) adalah pesan atau nasihat yang ingin disampaikan pengarang melalui cerita.


2.      Unsur Ekstrinsik
Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Unsur ekstrinsik meliputi:
-          Nilai-nilai dalam cerita (agama, budaya, politik, ekonomi)
-          Latar belakang kehidupan pengarang
-          Situasi sosial ketika cerita itu diciptakan
B.     Identitas Cerpen “
§  Judul : Mas Joni
§  Pengarang : Joseph Christoffel
§  Tahun : 2013
§  Sinopsis :
        Ogi seorang anak kecil yang gemar bermain robot-robotan bersama bang Roy, kakaknya. Pada suatu ketika bang Roy menceritakan bahwa ia melihat bagian badan robot-robotan yang selama ini mereka cari di toko mainan bang Kumis di depan sekolahnya. Hingga akhirnya Ogi memutuskan untuk pergi ke toko mainan didepan sekolahnya sendirian. Ogi pun tersesat tidak tau arah untuk pulang. Sampai akhirnya semua itu hanyalah mimpi yang mengingkatkan nya saat Ogi masih kelas 1 SD.

C.     Unsur – Unsur Instrinsik Cerpen “Mas Joni”
Berikut adalah unsur – unsur instrinsik cerpen “Mas Joni”
§  Tema   : Pengalaman masa kecil
§  Latar
-          Latar tempat    : Rumah, jalanan, Pangkalan ojek, Warung, Kali, Perumahan
-          Latar waktu     : Siang hari dan sore hari
-          Latar suasana  : Sepi, sunyi, menegangkan
§  Alur     : Alur mundur, terlihat dari jalan cerita yang menceritakan masa kecil nya.
-          Pengantar        : Ketika Ogi mencari bang Roy untuk bermain orang-orangan.
-          Penampilan masalah    : Ketika Ogi membayangkan bagaimana bentuk bagian robot yang dilihat oleh bang Roy di toko mainan depan sekolah
-          Puncak ketegangan     : Ketika ogi tersesat, dan mencari jalan yang benar untuk pulang
-          Ketegangan menurun  : Ketika bertemu seorang nenek dan ibu mas Joni lalu diantar pulang oleh mas Joni
-          Penyelesaian    : Ketika ogi melihat warung tempat dia biasa membeli telur
§  Perwatakan     :
-          Ogi  : Nakal, percaya diri, banyak ingin tahu
-          Bang Roy : Suka bermain
-          Om Samsudin : Rajin
-          Rayhan : Peduli
-          Nenek : Baik
-          Ibu mas Joni : Baik
-          Mas Joni : Baik, tangguh, suka menolong
-          Rosa : Penakut
§  Tokoh  : Dalam cerpen “mas Joni” memiliki Tokoh Protagonis yaitu Ogi. Kemudian juga terdapat tokoh pembantu yaitu bang Roy, om Samsudin, bang Shol, Rayhan, nenek, ibu mas Joni, mas Joni, Rosa
§  Amanat           :
-          Seorang anak tidak diperbolekan pergi sendiri, sebagai orang tua harus mengawasi anak dengan baik.
-          Selalu berterimakasih bila dibantu orang


D.    Unsur – Unsur Ekstrinsik Cerpen “Mas Joni”
§  Nilai Agama    :
-          Membantu sesama tanpa pamrih
-          Selalu membantu orang tua
§  Nilai Sosial      : Membantu sesama manusia  




BAB III
KESIMPULAN

Cerpen atau cerita pendek adalah salah satu karya sastra tertulis dalam bentuk prosa naratif fiktif. Cerpen memiliki dua unsur yaitu, unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur instrinsik diantaranya adalah tema, latar, alur, watak, tokoh, dan amanat. Unsur Ekstrinsik diantaranya adalah nilai agama, nilai budaya, nilai politik, nilai ekonomi, nilai sosial, dan latar belakang pengarang serta keadaan sosial saat cerita tersebut diciptakan.
Pada cerpen “Mas Joni” dapat disimpulkan bahwa Ogi adalah seorang anak yang pemberani dan ingin banyak tahu. Karna sifat yang ingin banyak tahu nya itu lah Ogi sampai tersesat tidak tau arah pulang. Pada saat tersesat Ogi dibantu diantar pulang oleh mas Joni. Sesampai nya Ogi dirumah Ogi lupa mengucapkan terimakasih kepada mas Joni karena sudah mengantarkan nya kembali kerumah. Semua itu hanyalah mimpi yang mengingatkan Ogi akan sebuah perjalanan menakjubkan di masa kecil bersama mas Joni.
Dalam cerpen “Mas joni” ini dapat mengambil sebuah pelajaran bahwa membantu sesama manusia itu sangatlah penting tetapi tak lupa berterimakasih bila sudah dibantu.






DAFTAR PUSTAKA

Minggu, 05 April 2015

KEBUDAYAAN NIPPON

TUGAS I
ILMU BUDAYA DASAR
“KEBUDAYAAN NIPPON”
Dosen                   : Auliya Ar Rahma


Oleh :
Ira Rochimah
1C114882
1KA08

SISTEM INFORMASI
FAKULTAS ILMU KOMPUTER TEKNOLOGI INFORMASI
MARET 2015


BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
                  Manusia mendiami wilayah yang berbeda, dan berada di lingkungan yang berbeda juga. Hal ini membuat kebiasaan, adat istiadat, kebudayaan dan kepribadian setiap manusia disuatu wilayah berbeda dengan yang lainnya. Namun secara garis besar terdapat tiga pembagian wilayah, yaitu : Barat, Timur Tengah, dan Timur. Kepribadian diartikan sebagai suatu pola sikap yang mencerminkan sifat atau karakter seseorang dengan lingkungannya. Bangsa timur diartikan suatu bangsa yg cukup menjunjung tinggi norma kesopanan. Kepribadian Bangsa Timur dapat diartikan sebagai suatu sikap yang dimiliki oleh suatu negara yang menentukan penyesuaian dirinya yang unik dan karakter yang mencerminkan masyarakat yang menganut budaya,ke-khasan, pola pikir dan kebiasaan dari daerah Timur.
                  Bangsa Timur dikenal dunia sebagai bangsa yang ramah dan bersahabat. Orang – orang dari wilayah lain sangat suka dengan kepribadian bangsa Timur yang tidak individualistis dan saling tolong menolong satu sama lain. Hal tersebut bagi bangsa timur merupakan suatu sikap yang bertujuan untuk mempererat tali persaudaraan. Bangsa timur identik dengan benua asia yang penduduknya sebagian besar berambut hitam, berkulit sawo matang dan ada pula yang berkulit putih, dan bermata sipit. Sebagian besar cara berpakaian orang timur lebih sopan dan tertutup mungkin karena orang timur kebanyakan memeluk agama islam dan menjunjung tinggi norma-norma yang berlaku. Serta terdapat ciri khas dalam berbagai negara yang memiliki kepribadian yang unik. Misalnya, orang di negara Jepang selalu membungkukkan badan mereka tanda hormat apabila bertemu dengan orang lain. Bangsa Timur masih memiliki kebiasaan dan adat istiadat yang masih sangat kental. Contohnya saja negara Korea. Mereka masih menggunakan hanbok pada saat-saat hari penting. Misalnya seollal atau tahun baru Korea, ulang tahun anak pertama ( doljanchi), pernikahan, dan festival-festival yang biasa dirayakan di Korea. Dan pada saat pernikahan umumnya kedua mempelai diwajibkan minum soju. Bangsa Timur pun masih sangat percaya dengan mitos. Contohnya di Jepang, orang-orang biasanya menikah di musim semi berharap pernikahan mereka akan bahagia. Atau yang lebih parah lagi, mereka sangat percaya dengan dukun/paranormal. Jepang, meskipun sudah menjadi negara maju, namun masyarakatnya masih sangat percaya dengan mistis.
                  Berdasarkan keunikan adat,budaya dan kepribadian Bangsa timur, Saya ingin membahas makalah mengenai salah satu adat, budaya kepribadian serta tingkah laku dari bangsa Jepang yang berjudul “KEBUDAYAAN NIPPON”


B.     RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana kebudayaan Bangsa Jepang?
2.      Bagaimana adat istiadat Bangsa Jepang?
3.      Bagaimana tingkah laku atau kebiasaan Masyarakat Jepang?






BAB II
ISI
A.    Kebudayaan
              Jepang merupakan Negara yang di juluki Negara matahari dan Negara bunga sakura, mengapa demikian? Karena di Negara jepang mayoritas beragama Shinto yang menyembah matahari sehingga disebut Negara Matahari, sedangkan julukan Negara Bunga Sakura di berikan karena banyak bunga sakura yang tumbuh di tanah jepang. Negara Jepang kaya dengan berbagai kebudayaan leluhurnya yang beraneka ragam. Walaupun saat ini perkembangan teknologi di Jepang terus berkembang dalam hitungan detik , namun sisi tradisional masuh terus dilestarikan hingga sekarang ini. Berikut ini adalah salah satu dari berbagai macam kebudayaan Jepang yang masih terus berlangsung hingga saat ini :
1.      Matsuri (祭, Matsuri)

           Matsuri (祭, Matsuri) adalah kata dalam bahasa Jepang yang menurut pengertian agama Shinto berarti ritual yang dipersembahkan untuk Kami, sedangkan menurut pengertian sekularisme berarti festival, perayaan atau hari libur perayaan.
Matsuri diadakan di banyak tempat di Jepang dan pada umumnya diselenggarakan jinja atau kuil, walaupun ada juga matsuri yang diselenggarakan gereja dan matsuri yang tidak berkaitan dengan institusi keagamaan.
           Di daerah Kyushu, matsuri yang dilangsungkan pada musim gugur disebut Kunchi. Sebagian besar matsuri diselenggarakan dengan maksud untuk mendoakan keberhasilan tangkapan ikan dan keberhasilan panen (beras, gandum, kacang, jawawut, jagung), kesuksesan dalam bisnis, kesembuhan dan kekebalan terhadap penyakit, keselamatan dari bencana, dan sebagai ucapan terima kasih setelah berhasil dalam menyelesaikan suatu tugas berat. Matsuri juga diadakan untuk merayakan tradisi yang berkaitan dengan pergantian musim atau mendoakan arwah tokoh terkenal. Makna upacara yang dilakukan dan waktu pelaksanaan matsuri beraneka ragam seusai dengan tujuan penyelenggaraan matsuri. Matsuri yang mempunyai tujuan dan maksud yang sama dapat mempunyai makna ritual yang berbeda tergantung pada daerahnya.
           Pada penyelenggaraan matsuri hampir selalu bisa ditemui prosesi atau arak-arakan Mikoshi, Dashi (Danjiri) dan Yatai yang semuanya merupakan nama-nama kendaraan berisi Kami atau objek pemujaan. Pada matsuri juga bisa dijumpai Chigo (anak kecil dalam prosesi), Miko (anak gadis pelaksana ritual), Tekomai (laki-laki berpakaian wanita), Hayashi (musik khas matsuri), penari, peserta dan penonton yang berdandan dan berpakaian bagus, dan pasar kaget beraneka macam makanan dan permainan.

2.      Perayaan Hanami

           Hanami (hana wo miru = melihat bunga) atau ohanami adalah tradisi Jepang dalam menikmati keindahan bunga, khususnya bunga sakura. Mekarnya bunga sakura merupakan lambang kebahagiaan telah tibanya musim semi. Selain itu, hanami juga berarti piknik dengan menggelar tikar untuk pesta makan-makan di bawah pohon sakura. Rombongan demi rombongan berpiknik menggelar tikar dan duduk-duduk di bawah pepohonan sakura untuk bergembira bersama, minum sake, makan makanan khas Jepang, dan lain-lain layaknya pesta kebun. Semuanya bergembira. Ada kelompok keluarga, ada kelompok perusahaan, organisasi, sekolah dan lain-lain

3.      Dou/do

           Di Jepang, terdapat kebudayaan tradisional yang disebut “dou/do” (artinya “jalan”). Ada kadou yang merupakan seni merangkai bunga, sadou yang menitikberatkan keindahan gerakan melalui etiket, koudou yang memungkinkan kita menikmati bau harum, shodou yang mengetengahkan keindahan huruf menggunakan kuas dan tinta, dan berbagai seni bela diri seperti judo yang termasuk dalam cabang olahraga, kendo, karatedo, aikido, dan kyudo (seni memanah). Baik seni bela diri maupun jalan seni bukanlah sekadar persaingan kekuatan atau keahlian, melainkan juga merupakan budaya khas Jepang yang menuntut keindahan gerakan dan spiritualitas. Selain itu, “dou” tidak memiliki titik akhir, melainkan sesuatu yang terus ditekuni seumur hidup. Menggembleng juga merupakan karakteristik “dou”.

4.      Kabuki

           Kabuki adalah sebuah bentuk teater klasik yang mengalami evolusi pada awal abad ke-17. Ciri khasnya berupa irama kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh para aktor, kostum yang super-mewah, make-up yang mencolok (kumadori), serta penggunaan peralatan mekanis untuk mencapai efek-efek khusus di panggung. Make-up menonjolkan sifat dan suasana hati tokoh yang dibawakan aktor. Kebanyakan lakon mengambil tema masa abad pertengahan atau zaman Edo, dan semua aktor, sekalipun yang memainkan peranan sebagai wanita, adalah pria.

B.     Adat Istiadat Jepang
            Adat istiadat merupakan kebiasaan sosial yang sejak lama ada dalam masyarakat dengan maksud mengatur tata tertib. Ada pula yang mengikat norma dan kelakuan di dalam masyarakat, sehingga dalam malakukan suatu tindakan mereka akan memikirkan dampak akibat dari berbuatannya atau sekumpulan tata kelakuan yang paling tinggi kedudukannyakarena bersifat kekal dan terintegrasi sangat kuat terhadap masyarakat yang memilikinya.
§  Orang Jepang dalam hubungan sosial biasanya menggunakan bahasa yang halus dan tidak angkuh. Saat bertemu biasanya membungkukkan badan dan terkadang juga bersalaman.
§  Dalam hubungan berkomunikasi dengan negara lain, pastilah kita harus menyesuaikan dengan adat istiadat dari negara - negara tersebut agar tidak ada kesalahpahaman dalam berkomunikasi apa lagi menyangkut sensitivitas dari masing-masing daerah. Orang Jepang lebih menyukai jabatan tangan yang ringan dengan orang yang belum dia kenal.
§  Adat istiadat di Jepang mengharuskan seesorang makan sambil duduk sembari menggunakan sumpit. Sumpit sendiri berasal dari daratan China dan para era Nara (710-794) menggunakan sepasang sumpit sudah mulai diikuti oleh penduduk negeri samurai ini.
§  Masyarakat Jepang percaya bahwa kekuatan misterius para dewa menyebabkan tanaman selalu berdaun hijau sepanjang tahun dan tidak merontokkan daunnya di musim dingin.

C.     Perilaku Masyarakat Jepang
           Perilaku atau sistem tingkah laku adalah perwujudan daripada kepercayaan dan nilai-nilai yang dipedomani oleh setiap kebudayaan. Menurut Ruben (1954, 129-155) perwujudan tingkah laku itu adalah melalui simbol-simbol verbal seperti bahasa yang digunakan baik lisan maupun tulisan dan melalui symbol-simbol nonverbal seperti gerakan badaniah/bahasa tubuh, penampilan, persepsi indrawi, penggunaan ruang dan jarak serta penggunaan waktu. (Lusiana, 2012 :70). Berikut ini prilaku Masyarakat Jepang :
§  Rasa Malu, budaya malu ini membawa pengaruh negatif dalam prilaku kehidupan masyarakat Jepang, adalah prilaku bunuh diri yang dikenal dengan “harakiri”. Lebih baik mati daripada menanggung rasa malu. Ini adalah salah satu efek negatif dari rasa malu
§  Tertib dan Disiplin, Bagaimana masyarakat Jepang bersikap terhadap peraturan lalu lintas adalah suatu nyata. Seperti, orang Jepang lebih senang memakai jalan memutar dari pada mengganggu pengemudi di belakangnya dengan memotong jalur di tengah jalan raya. Bagaimana taatnya mereka untuk menunggu lampu traffice light menjadi hijau, meskipun di jalan itu sudah tidak ada kendaraan yang lewat lagi.
§  Mereka sangat mengahargai waktu, disana mereka berangkat kerja dan sekolah sangat pagi dan jarang sekali ada yang telat, itu juga dikarenakan mereka lebih suka berangkat dengan kendaraan umum seperti kereta, daripada berangkat dengan kendaraan pribadi mereka.
§  Sopan dan Santun, Masyarakat Jepang sangat terlatih refleksnya untuk mengatakan gomennasai (maaf) dalam setiap kondisi yang tidak mengenakan orang lain.
§  Memberi hormat, membungkuk merupakan hal yang bagi masyarakat Jepang untuk memberi salam atau meminta maaf. Dari saat mereka memasuki sekolah dasar, orang Jepang belajar untuk menghormati orang tua – dan membungkuk adalah bagian dari itu. Tunduk pada teman pada diambil sudut 30 derajat sedangkan untuk atasan di tempat kerja atau orang tua dan orang-orang yang di hormati lain nya pada sudut 70 derajat di ikuti dengan tutur bahasa yang sopan. Ketika memanggil orang yang lebih tua harus selalu menambahkan “san”, yang merupakan nama kehormatan untuk mereka.
§  Jepang bisa maju seperti sekarang ini karena mereka rajin belajar, murid murid di Jepang biasa belajar sampai lebih dari 12 jam, dari pagi jam 08.00 sampai 17.00. Setelah selesai di sekolah mereka tidak langsung pulang tapi mereka belajar di Juku ( semacam bimbingan belajar). Mereka belajar di Juku bisa sampai jam 22.00 dan baru pulang sekitar jam 24.00. Dan hal ini menjadikan orang Jepang untukgiat bekerja saat telah menyelesaikan pendidikan.
§  Identitas Kolektif, masyarakat Jepang cenderung menganut identitas kolektif (kelompok) sebagai sebuah kebanggaan. Kultur kebersamaan ini bisa terlihat jika kita sudah bergabung dengan komunitas tertentu, misalnya di laboratorium, unit kegiatan mahasiswa, atau perusahaan. Perilaku bekerja sama dan terbiasa dalam teamwork ini sesuai dengan Konsep Wa yakni salah satu pilar nilai dalam budaya jepang yang berarti harmoni. Wa mengandung makna mengedepankan semangat teamwork, menjaga hubungan baik, dan menghindari ego individu.
§  Dalam tata cara makan di Jepang, menyeruput makanan Anda, terutama sup atau ramen, benar-benar dapat diterima. Bahkan, itu dianggap sebagai cara yang tepat untuk menikmati rasa ramen sepenuhnya. Bahkan ini adalah cara mereka untuk menghargai tuan rumah ataupun koki yang sudah menyiapkan makanan.
§  Sikap Duduk, Masyarakat Jepang juga memiliki sikap duduk yang unik yakni duduk dengan sikap “Seiza”(duduk dengan kaki terlipat di bawah pantat), secara harfiah diterjemahkan sebagai “duduk yang tepat.”
§  Tata Cara Makan, setia anak-anak di Jepang diajarkan untuk  memakan setiap potongan terakhir dari makanannya, termasuk butiran nasi, sebelum beranjak dari meja.
§  Jika diundang ke sebuah pesta minum (“nomikai”), jangan menuangkan bir hanya untuk diri sendiri dan mulai minumnya. Sikap yang baik mengharuskan kalian untuk ‘toast‘ terlebih dahulu, angkat gelas dengan satu tangan dan mengatakan “Kanpai!” (Cheers!) Biasanya, ketika mengambil tempat duduk, pelayan akan memberikan “oshibori” (handuk basah kecil) untuk membersihkan tangan.
§  Budaya di Jepang mengharuskan kita melepas sepatu saat memasuki rumah atau berkunjung ke rumah orang Jepang. Di setiap rumah tersedia sandal untuk kita pakai saat berada di dalam rumah.
§  Ada banyak spa dan pemandian umum di kota-kota dan daerah pedesaan di Jepang. Gaya mandi Jepang berbeda dengan di Barat atau di Indonesia.
§  Di jepang juga terkenal dengan kebiasaan membaca. Dimanapun dan kapanpun bisa mereka manfaatkan untuk membaca misalnya di kereta api, di taman, di toko buku dan tempat lainnya.
§  Dalam hal keuangan, orang Jepang terkenal dengan sifat yang hemat dan tidak suka berprilaku konsumtif. Hal ini kenapa orang Jepang sering berbelanja pada pukul 19.30 karena pada jam-jam seperti ini biasanya supermarket memberikan diskon.  Di Jepang kita tidak perlu memberi tip kepada pegawai hotel, bar dan staf restoran, sopir taksi, dan sebagainya. Bahkan, memberi seseorang tip akan mempermalukan mereka, karena itu merupakan hal yang sedikit agak kasar untuk dilakukan di Jepang,
§  Salah satu nilai baik yang ditanamkan sejak dini adalah mengenai kemandirian. Sejak kecil anak-anak di Jepang diajar untuk mandiri sehingga anak-anak sudah terbiasa pergi dan pulang sekolah sendiri tanpa dijemput oleh orang tuanya.
§  Bangsa Jepang juga dikenal karena semangat pantang menyerah, karena dalam budaya mereka tidak ada prinsip kegagalan. Yang ada hanyalah kurang berusaha, oleh karenanya mereka terbiasa menjadi orang-orang yang ulet dan pantang menyerah.
§  Jepang dikenal beberapa kebiasaan buruk yang biasa dilakukan masyarakat ini seperti kebiasaan jarang mandi. Mereka mandi hanya seminggu sekali di pemandian air panas (onsen), dan yang menarik mereka mandi beramai-ramai dan tanpa menggunakan busana sehelaipun.
§  Orang Jepang sering bunuh diri. Mereka biasa bunuh diri di awal tahun atau akhir tahun, biasanya mereka bunuh diri karena mereka malu, banyak diantaranya pelajar yang tidak lulus, ada juga yang bunuh diri karena lilitan hutang,dan masih banyak penyebab mereka bunuh diri.  Namun jika bunuh diri dengan cara menabrakkan diri ke kereta, akan didenda sebesar 10M.
§  Prosedural, Well Organized, Tekun, dan Teliti. Sifat-sifat ini turunan dari karakter yang menghargai usaha, untuk meraih hasil yang memuaskan. Orang Jepang memang sangat cocok untuk jenis pekerjaan yang berupa rutinitas dan membutuhkan ketelitian.




BAB III
KESIMPULAN

            Jepang merupakan salah satu Negara yang menjadi “barometer” bagaimana sebuah budaya dalam sosial masyarakat dapat terinternalisasi dengan sangat baik dan mereka sangat konsisten dengan budaya yang mereka yakini tersebut serta berusaha menjaga dan melestarikannya sehingga sampai saat ini, dan dapat kita lihat bahwa budaya Jepang masih menjadi contoh dan teladan tentang bagaimana pengaruh budaya yang sangat kuat pada kehidupan sehari-hari masyarakat yang ada didalamnya.






DAFTAR PUSTAKA



Jumat, 23 Januari 2015

AGAMA & MASYARAKAT




A. Pengertian Agama
          Agama menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah sistem yang mengatur tata keimanan (kepercayaan) dan peribadatan kepada Tuhan Yang Mahakuasa serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya. Kata "agama" berasal dari bahasa Sansekerta āgama yang berarti "tradisi". Sedangkan kata lain untuk menyatakan konsep ini adalah religi yang berasal dari bahasa Latin religio dan berakar pada kata kerja re-ligare yang berarti "mengikat kembali". Maksudnya dengan ber-religi, seseorang mengikat dirinya kepada Tuhan.

Pengertian Agama Menurut Para Ahli        :
Menurut Durkheim: Agama adalah merupakan suatu sistem yang terpadu terdiri atau kenyakinan dan praktek yang berhubungan dengan hal-hal yang suci dan menyatukan semua penganutnya dalamsuatu komunitas moral yang di namakan umat
Menurut Prof Dr.M Drikarya: Agama adalah kenyakinan adanya suatu kekuatan supranatural yang mengatur danmenciptakan alam dan isinya
Menurut H. Moenawar Chalil: Agama adalah perlibatan yang merupakan tingkah laku manusia dalam berhubungandengan kekuatan supranatural tersebut sebagai konsekuensi otos pengakuannya
Menurut Hendro Puspito: Agama adalah sistem nilai yang mengatur hubungan manusia dan alam semesta yangberkaitan dengan keyakinan
Menurut Jappy Pellokild: Agama adalah percaya adanya tuhan yang maha esa dan hukum-hukumnya.
Menurut Anthony F.C. Wallace: Agama sebagai seperangkat upacara yang diberi rasionalisasi lewat mitos dan menggerakkan kekuatan supernatural dengan maksud untuk mencapai terjadinya perubahan keadaan pada manusia dan semesta.
Menurut Parsons & Bellah: Agama adalah tingkat yang paling tinggi dan paling umum dari budaya manusia.
Menurut Luckmann: Agama adalah kemampuan organisme manusia untuk mengangkat alam biologisnya melalui pembentukan alam-alam makna yang objektig, memiliki daya ikat moral dan serba meliputi.
Menurut KBBI: Agama adalah sistem yang mengatur tata keimanan/kepercayaan dan peribadatan kepada Tuhan Yang Maha kuasa serta kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dan manusia lainnya

B. Fungsi Agama
Fungsi agama dalam masyarakat, antara lain :
·         Sumber pedoman hidup bagi individu maupun kelompok
·         Mengatur tata cara hubungan manusia dengan Tuhan dan manusia dengan manusia.
·         Merupakan tuntutan tentang prinsip benar atau salah
·         Pedoman mengungkapkan rasa kebersamaan
·         Pedoman perasaan keyakinan
·         Pedoman keberadaan
·         Pengungkapan estetika (keindahan)
·         Pedoman rekreasi dan hiburan
·         Memberikan identitas kepada manusia sebagai umat dari suatu agama.


        HUBUNGAN ANTARA AGAMA DAN MASYARAKAT

Telah kita ketahui Indonesia memiliki banyak sekali budaya dan adat istiadat yang juga berhubungan dengan masyarakat dan agama. Dari berbagai budaya yang ada di Indonesia dapat dikaitkan hubungannya dengan agama dan masyarakat dalam melestraikan budaya. Sebagai contoh budaya Ngaben yang merupakan upacara kematian bagi umat hindu Bali yang sampai sekarang masih terjaga kelestariannya. Hal ini membuktikan bahwa agama mempunyai hubungan yang erat dengan budaya sebagai patokan utama dari masyarakat untuk selalu menjalankan perintah agama dan melestarikan kebudayaannya. Selain itu masyarakat juga turut mempunyai andil yang besar dalam melestarikan budaya, karena masyarakatlah yang menjalankan semua perintah agama dan ikut menjaga budaya agar tetap terpelihara.

Selain itu ada juga hubungan lainnya,yaitu menjaga tatanan kehidupan. Maksudnya hubungan agama dalam kehidupan jika dipadukan dengan budaya dan masyarakat akan membentuk kehidupan yang harmonis,karena ketiganya mempunyai keterkaitan yang erat satu sama lain. Sebagai contoh jika kita rajin beribadah dengan baik dan taat dengan peraturan yang ada, hati dan pikiran kita pasti akan tenang dan dengan itu kita dapat membuat keadaan menjadi lebih baik seperti memelihara dan menjaga budaya kita agar tidak diakui oleh negara lain. Namun sekarang ini agamanya hanyalah sebagi symbol seseorang saja. Dalam artian seseorang hanya memeluk agama, namun tidak menjalankan segala perintah agama tersebut. Dan di Indonesia mulai banyak kepercayaan-kepercayaan baru yang datang dan mulai mengajak/mendoktrin masyarakat Indonesia agar memeluk agama tersebut. Dari banyaknya kepercayaan-kepercayaan baru yang ada di Indonesia, diharapkan pemerintah mampu menanggulangi masalah tersebut agar masyarakat tidak tersesaat di jalannya. Dan di harapkan masyarakat Indonesia dapat hidup harmonis, tentram, dan damai antar pemeluk agama yang satu dengan lainnya.

          Kaitan agama dengan masyarakat dapat dikategorikan kedalam 3 tipe meskipun tidak secara keseluruhan :
-         Masyarakat yang terbelakang dan nilai-nilai sacral: Tipe ini menggambarkan sekelompok orang yang menganut kepercayaan serta kelompok agama yang sama sehingga tipe ini disebut sebagai tipe yang kecil, terisolasi dan terbelakang
-         Masyarakat pra-industri yang sedang berkembang: Tipe yang lebih baik dari tipe sebelumnya. Terlihat dari berbagai macam acara atau upacara dalam merayakan suatu acara keagamaan serta adanya perkembangan teknologi yang mendominasi ketimbang tipe pertama serta jauh dari kesan terisolasi
-         Masyarakat-masyarakat industri sekular: Tipe ini mencirikan masyarakat industri yang semakin tinggi dalam bidang teknologi sehingga watak masyarakat sekular menurut Roland Robertson (1984) tidak terlalu mementingkan agama, misalnya pemikiran agama, praktek agama, serta kebiasaan-kebiasaan agama yang seharusnya selalu dilakukan kini peranannya mulai berkurang


Sumber: